Bulan Ramadan adalah bulan yang paling dinantikan oleh umat muslim, karena dianggap sebagai bulan yang penuh berkah dan rahmat. Semua umat muslim yang sehat dan sudah akil balik diwajibkan untuk berpuasa sebulan penuh selama bulan Ramadan. Meskipun untuk sebagian orang ibadah puasa cukup berat, namun terdapat keistimewaan untuk mendapatkan hikmah dari Allah berupa kebahagian, pahala berlipat, dan bahkan mukjizat dalam kesehatan.

Berbagai penelitian telah mengungkapkan adanya mukjizat puasa yang ditinjau dari perpekstif medis modern. Berdasarkan penelitian ilmiah, tidak ditemukan efek merugikan dari puasa Ramadan pada jantung, paru, hati, ginjal, mata, profil endokrin, hematologi dan fungsi neuropsikiatri. Meskipun puasa Ramadan aman untuk semua orang yang sehat dan beberapa kondisi sakit tertentu, namun seseorang dengan penyakit tertentu harus berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter dan mengikuti rekomendasi ilmiah.

Berikut ini adalah 20 mukjizat puasa terhadap kesehatan tubuh:

1. Keseimbangan anabolisme dan katabolisme

Ketika berpuasa akan terjadi keseimbangan anabolisme dan katabolisme yang menyebabkan asam amino dan berbagai zat lainnya membantu peremajaan sel dan komponennya dalam memproduksi glukosa darah dan mensuplai asam amino dalam darah sepanjang hari. Cadangan protein yang cukup dalam hati dari asupan nutrisi saat buka dan sahur akan tetap membuat kondisi tubuh terus memproduksi protein esensial lainnya seperti albumin, globulin dan fibrinogen.

2. Tidak mengakibatkan pengasaman dalam darah

Saat berpuasa, asam amino akan teroksidasi dengan pelan dan zat keton tidak meningkat dalam darah, sehingga tidak akan mengakibatkan pengasaman dalam darah.

3. Tidak berpengaruh pada sel darah manusia

Berdasarkan penelitian, puasa tidak berpengaruh pada sel darah dan tidak terdapat perbedaan jumlah retikulosit, volume sel darah merah serta rata-rata konsentrasi hemoglobin, dibandingkan dengan orang yang tidak berpuasa.

4. Puasa pada penderita diabetes tipe 2 tidak berpengaruh

Puasa pada penderita diabetes tipe 2 tidak berpengaruh dan tidak terdapat perbedaan protein gula, protein glikosilat dan hemoglobin glikosilat. Namun pada penderita diabetes tipe tertentu, sebaiknya harus berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter bila hendak berpuasa.

5. Pengaruh pada ibu hamil dan menyusui

Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan kadar glukosa serum, asam lemak bebas, trigliserol, keton, beta hidroksi butirat, alanin, insulin, glucagon dan hormon tiroksin pada ibu hamil, ibu menyusui, dan kelompok tidak hamil dan tidak menyusui.

6. Pengaruh pada janin saat ibu hami berpuasa

Berdasarkan hasil dari sebuah penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan yang ditemukan antara kedua kelompok untuk usia janin, berat badan ibu, perperkiraan kenaikan berat badan janin (EFWG), BPP janin, AFI, dan rasio arteri umbilikalis S/D.

7. Penurunan glukosa dan berat badan

Sebuah studi menunjukkan bahwa puasa dapat menyebabkan penurunan glukosa dan berat badan. Meskipun ada penurunan yang signifikan dalam frekuensi makan, peningkatan yang signifikan dalam LDL, serta penurunan HDL tercatat pada bulan Ramadan. Namun tampaknya efek puasa Ramadan pada tingkat lipid dalam darah mungkin berkaitan erat dengan pola makan gizi atau respon kelaparan biokimia.

8. Pengaruh pada fungsi kelenjar gondok

Berpuasa juga ternyata terbukti tidak berpengaruh pada fungsi kelenjar gondok manusia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan kadar plasma tiroksin (TS),tiroksin bebas, tironin triyodium dan hormon perangsang gondok (TSH) pada penderita laki-laki yang sedang berpuasa.

9. Pengaruh pada hormon virgisteron

Penelitian pada hormon wanita tidak terjadi gangguan pada hormon virgisteron saat melaksanakan puasa. Namun, 80% populasi penelitian menunjukkan adanya penurunan hormon prolaktin. Penelitian ini menunjukkan harapan baru bagi penderita infertilitas atau kemandulan wanita yang disebabkan peningkatan hormon prolaktin, sehingga saat puasa wanita tetap berpeluang besar untuk tetap pada kondisi subur.

10. Bermanfaat untuk jantung

Beberapa penelitian “chronobiological” menunjukkan, bahwa saat puasa berpengaruh terhadap ritme penurunan distribusi sirkadian dari suhu tubuh, hormon kortisol, melatonin dan glisemia. Berbagai perubahan tersebut yang meskipun ringan, namun tampaknya berperan bagi peningkatan kesehatan manusia.

11. Memperbaiki dan merestorasi fungsi dan kinerja sel

Pola makan saat puasa dapat menyuplai asam lemak dan asam amino saat makan sahur dan berbuka, sehingga terbentuk tunas-tunas protein, lemak, fosfat, kolesterol dan lainnya untuk membangun sel baru dan membersihkan sel lemak yang menggumpal di dalam hati. Jumlah sel yang mati dalam tubuh bisa mencapai 125 juta perdetik, namun yang lahir dan meremaja akan lebih banyak lagi.

12. Efektif meningkatkan konsentrasi urin dalam ginjal serta meningkatkan kekuatan osmosis urin

Konsumsi air yang berhenti selama puasa sangat efektif meningkatkan konsentrasi urin dalam ginjal serta meningkatkan kekuatan osmosis urin hingga mencapai 1000 sampai 12.000 ml osmosis/kg air. Hal ini dalam keadaan tertentu akan memberikan perlindungan terhadap fungsi ginjal. Kekurangan air saat puasa ternyata dapat meminimalkan volume air dalam darah. Kondisi ini dapat memacu kinerja mekanisme lokal pengatur pembuluh darah dan menambah prostaglandin yang pada akhirnya memacu fungsi dan kerja sel darah merah.

13. Meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

Penelitian menunjukkan bahwa saat puasa akan terjadi peningkatan limfosit hingga sepuluh kali lipat. Keseluruhan sel darah putih tidak berubah ternyata sel T mengalami kenaikkan pesat. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa terjadi penurunan kadar apo-betta, menaikkan kadar apo-alfa1 dibandingkan sebelum puasa. Kondisi tersebut bisa menjauhkan serangan penyakit jantung dan pembuluh darah.

14. Penurunan berbagai hormon salah satu rahasia hidup jangka panjang

Penelitian endokrinologi menunjukkan bahwa pola makan saat puasa yang bersifat rotatif akan menjadi beban dalam asimilasi makanan di dalam tubuh. Keadaan ini mengakibatkan adanya penurunan pengeluaran hormon sistem pencernaan dan insulin dalam jumlah besar. Penurunan berbagai hormon tersebut merupakan salah satu rahasia untuk hidup jangka panjang.

15. Bermanfaat dalam pembentukan sperma

Manfaat lain puasa ditunjukan dalam penelitian pada kesuburan laki-laki. Penelitian tersebut dilakukan pada hormon testoteron, prolaktin, lemotin, dan hormon stimulating folikel (FSH). Ternyata hasil akhir penelitian tersebut menunjukkan bahwa puasa bermanfaat dalam pembentukan sperma melalui perubahan hormon hipotalamus-pituatari testicular dan pengaruh kedua testis.

16. Bermanfaat untuk penderita radang persendian (encok) atau rematoid arthritis

Manfaat lain dar puasa yang perlu penelitian lebih lanjut adalah pengaruh puasa pada membaiknya penderita radang persendian (encok) atau rematoid arthritis. Sebuah penelitian menyimpulkan bahwa terdapat korelasi antara membaiknya radang sendi dan peningkatan kemampuan sel penetral dalam membasmi bakteri.

17. Memperbaiki hormon testoteron dan performa seksual

Sebuah penelitian mengamati kadar hormon kejantanan (testoteron), perangsang kantung (FSH) dan lemotin (LH). Terjadi perubahan kadar berbagai hormon tersebut dalam tiap minggu, pada tahap awal didapatkan penurunan hormon testoteron yang berakibat pada penurunan nafsu seksual tetapi tidak menganggu jaringan kesuburan. Namun, hal tersebut hanya bersifat sementara karena beberapa hari setelah puasa hormon testoteron dan performa seksual meningkat pesat melebihi sebelumnya.

18. Memperbaiki kondisi mental secara bermakna

Seorang peneliti di Moskow melakukan penelitian pada seribu penderita kelainan mental termasuk skizofrenia, dan ternyata dengan puasa sekitar 65% terdapat perbaikan kondisi mental yang bermakna. Berbagai penelitian lainnya juga menunjukkan bahwa puasa Ramadan juga mengurangi risiko kompilkasi kegemukan, melindungi tubuh dari batu ginjal, meredam gejolak seksual kalangan muda dan penyakit lainnya yang masih banyak lagi.

19. Peningkatan komunikasi psikososial baik dengan Allah dan sesama manusia

Ketika bulan puasa akan terjadi peningkatan komunikasi psikososial baik dengan Allah dan sesama manusia. Hubungan psikologis tersebut berupa komunikasi dengan Allah akan meningkat pesat, karena puasa adalah bulan penuh berkah. Setiap doa dan ibadah akan berpahala berlipat kali dibandingkan biasanya. Kualitas dan kuantitas ibadah di bulan puasa akan bertambah dan juga meningkatkan komunikasi sosial dengan sesama manusia baik keluarga, saudara dan tetangga akan lebih sering. Berbagai peningkatan ibadah secara langsung ini akan meningkatkan hubungan dengan Pencipta dan sesamanya, sehingga membuat jiwa lebih aman, teduh, senang, gembira, puas serta bahagia.

20. Menurunkan adrenalin

Keadaan psikologis yang tenang, teduh, dan tidak dipenuhi oleh amarah saat puasa ternyata dapat menurunkan adrenalin. Saat marah akan terjadi peningkatan jumlah adrenalin sebesar 20-30 kali lipat. Adrenalin akan memperkecil kontraksi dari otot empedu, menyempitkan pembuluh darah perifer, meluaskan pembuluh darah koroner, meningkatkan tekanan darah arterial dan menambah volume darah ke jantung dan jumlah detak jantung.