Darah bisa diberikan oleh siapa pun kepada yang membutuhkan. Keputusan Anda untuk menyumbangkan darah bisa menyelamatkan satu kehidupan, atau bahkan beberapa nyawa sekaligus. Namun, bagaimana menurut medis perihal donor darah saat puasa? Apakah boleh menyumbangkan darah dengan kondisi perut sedang kosong?

Donor darah saat puasa boleh-boleh saja, karena terlepas dari waktu yang Anda pilih untuk menyumbangkan darah, donor darah tetap merupakan kegiatan yang bermanfaat bagi kesehatan diri sendiri dan orang yang menerimanya.

Rutin donor darah bisa membantu menjaga kadar zat besi di dalam tubuh. Hal tersebut terbukti bisa mengurangi risiko berbagai penyakit jantung. Stok zat besi yang berlebihan dapat menyebabkan kekentalan darah, di mana salah satu faktor risiko dari serangan jantung dan stroke. Persediaan zat besi yang berlebihan juga bisa menyebabkan kerusakan oksidatif dalam tubuh, yang menjadi penyebab utama penuaan dini dan kanker. Inilah salah satu manfaat donor darah yaitu menurunkan risiko Anda terhadap beberapa jenis kanker.

Namun perlu dipahami bahwa ada risiko kesehatan tersendiri dari donor darah saat berpuasa. Donor darah saat puasa bisa berisiko pingsan, karena saat puasa tubuh mengalami berbagai macam kondisi yang bisa memengaruhi kesehatan. Tubuh tidak dapat memperoleh energi dari makanan dan minuman selama berpuasa, sehingga untuk menyiasatinya tubuh beralih pada simpanan energi darurat dari glukosa yang tersimpan di hati dan otot. Kerja otak dan organ vital dalam tubuh Anda sangat bergantung pada fungsi glukosa. Kadar gula darah yang terlalu rendah tidak mampu mendukung kebutuhan energi tubuh dan otak.

Orang yang berpuasa juga sering mengalami dehidrasi karena tubuh tidak mendapatkan cukup cairan. Padahal, tubuh terus-menerus mengeluarkan cairan selama seharian, lewat keringat, urin, atau saat buang air besar. Air juga bisa hilang dari pembuluh darah, yang kemudian dapat mengganggu sirkulasi darah. Selain itu, puasa juga bisa meningkatkan stres dan mengganggu tidur. Kombinasi dari berbagai macam komplikasi puasa inilah yang menyebabkan Anda jadi tidak bertenaga, sulit berkonsentrasi, pusing, sakit kepala, hingga sering gemetaran.

Sementara itu, sebagian besar zat besi di tubuh Anda juga akan ikut hilang setelah donor darah. Untuk mengimbangi hal tersebut, zat besi yang tersisa akan diputar merata ke seluruh tubuh. Kekurangan zat besi dapat menyebabkan kadar hemoglobin berkurang, di mana hemoglobin bertanggung jawab dalam membawa darah beroksigen ke setiap sel di seluruh tubuh, termasuk otak. Jika darah tidak mengandung cukup hemoglobin, maka jaringan otak tidak bisa menerima oksigen yang cukup. Begitu pula dengan kadar natrium dan kalium yang tidak mencukupi selama puasa dapat mempengaruhi denyut jantung dan tekanan darah, yang juga dapat menurunkan aliran darah ke otak.

Kekurangan zat besi dan oksigen dalam darah, kadar gula darah rendah, dan tekanan darah rendah bisa menyebabkan pusing dan pingsan, apalagi jika terjadi secara bersamaan. Ini akan menyebabkan denyut jantung dan tekanan darah Anda turun mendadak. Akibatnya, aliran darah ke otak menjadi terhambat, sehingga bisa menyebabkan Anda kehilangan kesadaran sementara.

Tips aman memberi donor darah saat puasa

Meskipun donor darah saat puasa berpotensi menyebabkan pingsan, namun bukan berarti Anda tidak boleh melakukannya. Anda tetap bisa melakukannya dengan memilih waktu yang tepat, dan telah menyiapkan diri dengan simpanan gizi dan cairan yang mencukupi dalam empat jam sebelum memberi sumbangan. Sebagian besar pedoman donor darah merekomendasikan bahwa pendonor yang puasa harus minum minimal 500 ml air minum segera sebelum dan sesudah menyumbang darah.

Oleh karena itu, disarankan bagi orang yang berpuasa untuk sebaiknya mendonorkan darah setelah lewat waktu berbuka. Sehingga Anda memiliki waktu yang cukup untuk mengisi ulang tubuh dengan asupan nutrisi dan air, untuk menghindari kemungkinan pingsan setelah donor darah.

Selain itu, beberapa malam sebelum donor darah, usahakan Anda mencukupi asupan gizi dan cairan tubuh Anda dengan makanan dan minuman kaya zat besi, seperti daging merah, ayam, ikan, produk susu, kacang dan biji-bijian, dan bayam. Kemudian hindari makanan berlemak, seperti fast food atau es krim yang bisa mengecoh hasil tes darah.

Perbanyak minum air putih dan minuman lainnya sebelum donor darah, dan di malam menjelang donor darah, usahakan Anda cukup beristirahat. Perbanyak juga asupan cairan dan makanan setelah donor darah saat puasa.