Cedera kepala adalah kondisi struktur kepala yang mengalami benturan dari luar dan berisiko menimbulkan gangguan pada fungsi otak. Apabila cedera sampai menyebabkan kerusakan pada otak, maka bisa menimbulkan perubahan perilaku hingga kelumpuhan.

Berdasarkan tingkat keparahannya, cedera kepada terbagi menjadi tiga, yaitu:

  1. Cedera kepala ringan yang dapat menyebabkan gangguan sementara pada fungsi otak.
  2. Cedera kepala sedang dapat mengalami gangguan pada fungsi otak dalam waktu yang lebih lama.
  3. Cedera kepala berat yang dapat menimbulkan komplikasi jangka panjang, dan bila tidak ditangani dengan tepat, dapat menyebabkan kematian.

Selain itu, cedera kepala juga dapat dibedakan menjadi:

  • Cedera kepala terbuka, apabila cedera tersebut menyebabkan kerusakan pada tulang tengkorak sehingga mengenai jaringan otak.
  • Cedera kepala tertutup, apabila cedera tidak menyebabkan kerusakan pada tulang tengkorak, dan tidak mengenai otak secara langsung.

Gejala

Gejala cedera kepala berbeda-beda tergantung pada tingkat keparahannya. Gejala yang muncul juga tidak semuanya langsung dirasakan setelah cedera terjadi, karena pada beberapa kasus malah gejala muncul setelah beberapa hari bahkan hingga beberapa minggu. Berikut ini adalah gejala yang dapat dialami penderita cedera kepala berdasarkan tinggkat keparahannya:

  • Gejala yang dapat dialami pada cedera kepala ringan adalah pingsan beberapa saat, pusing, hilang keseimbangan, sulit mengingat atau berkonsentrasi, linglung atau pandangan kosong, mual hingga muntah, mudah merasa lelah dan mengantuk, kesulitan tidur, sensitif terhadap cahaya atau suara, penglihatan kabur, telinga berdenging, gangguan penciuman, mulut terasa pahit, serta suasana hati yang berubah-ubah.
  • Gejala yang dapat dialami pada cedera kepala sedang hingga berat adalah pingsan dalam waktu yang lebih lama, pusing terus menerus, mual atau muntah berkelanjutan, kejang, pupil melebar, keluar cairan dari hidung atau telinga, kesulitan bangun tidur, jari-jari tangan melemah atau kaku, terlihat bingung, perubahan perilaku, kesulitan berbicara, hingga koma.

Penyebab

Penyebab utama cedera kepala adalah benturan keras yang mengenai bagian kepala. Benturan yang terjadi akan menentukan tingkat keparahan yang dialami. Beberapa aktivitas atau situasi yang dapat meningkatkan risiko cedera kepala, antara lain kecelakaan lalu lintas, cedera saat olahraga atau bermain, terpeleset di permukaan yang keras, jatuh dari ketinggian, kekerasan dalam rumah tangga, dan sindrom yang terjadi pada bayi karena guncangan yang berlebihan.

Diagnosis

Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, dan menanyakan bagaimana cedera tersebut bisa terjadi. Dokter juga mungkin akan melakukan pemeriksaan lainnya jika diperlukan, seperti:

  • Pemeriksaan neurologis untuk mengevaluasi fungsi saraf.
  • Pemeriksaan Glasgow Coma Scale  (GCS) untuk menilai tingkat kesadaran pasien.
  • Pemindaian, seperti seperti foto Rontgen, CT scan, dan MRI

Dokter akan meminta keluarga atau kerabat untuk memantau kondisi pasien selama beberapa hari. Pemantauan tersebut dilakukan utnuk melihat perkembangan gejala dan menyesuaikannya dengan hasil diagnosis.

Komplikasi

Cedera kepala rentan mengalami komplikasi. Beberapa komplikasi yang mungkin terjadi antara lain penurunan kesadaran hingga koma, epilepsi (kejang-kejang berulang), infeksi, kerusakan saraf yang dapat memicu kelumpuhan, kerusakan pembuluh darah yang memicu stroke, serta penyakit degenerasi otak (demensia, penyakit parkinson, dan penyakit alzheimer).

Pengobatan

Pengobatan yang diberikan akan disesuaikan dengan tingkat keparahan cedera. Dokter umumnya akan memberikan obat-obatan, menyarankan terapi, bahkan jika diperlukan akan dilakukan tindakan operasi.

  • Obat-obatan yang dianjurkan untuk penderita cedera kepala ringan adalah paracetamol untuk meredakan rasa nyeri. Sedangkan, untuk penderita cedera kepala sedang atau berat akan diberikan obat antikejang, atau diuretik untuk meredakan tekanan dalam otak, serta obat penenang jika diperlukan untuk kondisi yang lebih parah.
  • Terapi mungkin diperlukan bagi penderita cedera kepala sedang hingga berat. Terapi yang biasanya disarankan, yaitu fisioterapi, terapi saraf, terapi okupasi, terapi wicara, dan terapi rekreasi.
  • Operasi umumnya disarankan untuk kondisi yang darurat. Tindakan yang biasanya dilakukan adalah membuka tulang tengkorak, mengangkat bekuan darah, serta memperbaiki tulang tengkorak yang patah.

Pencegahan

Berikut ini adalah langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah cedera kepala:

  • Menggunakan alat pengaman saat berkendara, misalnya sabuk pengaman atau helm.
  • Menggunakan alat pengaman saat melakukan beberapa jenis olahraga, seperti tinju, sepakbola, menyelam, ataupun bersepeda.
  • Tidak mengonsumsi minuman beralkohol sebelum berkendara untuk menghindari kecelakaan.
  • Memastikan lantai selalu kering dan tidak licin.
  • Letakkan keset kering di depan pintu kamar mandi untuk menghindari terpeleset.
  • Pasang pegangan besi di kamar mandi dan samping tangga untuk mengurangi risiko terpeleset.
  • Memasang penerangan yang baik di seluruh rumah.
  • Memasang tralis jendela apabila tinggal di rumah bertingkat atau apartemen.
  • Olahraga teratur untuk peregangan otot.
  • Pemeriksaan kondisi mata secara rutin.