Hepatitis C adalah penyakit akibat virus yang dapat memicu infeksi dan inflamasi pada hati. Penyakit ini awalnya tidak menimbulkan gejala, sehingga penderitanya tidak menyadari sampai akhirnya menderita kerusakan hati permanen beberapa tahun kemudian.

Virus hepatitis C ini dapat menyebabkan infeksi akut dan kronis. Infeksi yang terjadi pada 6 bulan pertama adalah hepatitis C akut. Infeksi ini biasanya tidak menimbulkan gejala dan jarang membahayakan nyawa penderitanya. Sedangkan, infeksi dalam waktu yang lama, akan berkembang menjadi infeksi hepatitis C kronis. Penderita hepatitis C kronis ini berisiko terkena sirosis hati dalam waktu 20 tahun, hingga bisa berakibat fatal.

Gejala

Waktu sejak virus pertama masuk hingga gejala hepatitis C muncul adalah 2 minggu hingga 6 bulan. Infeksi pada 6 bulan pertama ini disebut hepatitis C akut. Hanya beberapa penderita hepatitis C akut yang mengalami gejala. Gejala yang muncul hampir sama dengan penyakit lain sehingga sulit disadari. Beberapa gejala tersebut meliputi:

  • Kelelahan;
  • Nyeri pada otot dan sendi;
  • Demam;
  • Hilang nafsu makan;
  • Mual;
  • Muntah;
  • Sakit perut;
  • Feses atau tinja berwarna abu-abu;
  • Sakit kuning.

Sedangkan gejala hepatitis C kronis sangat bervariasi, mulai dari gejala ringan hingga gejala berat. Selain gejala yang sama dengan hepatitis C akut, berikut ini adalah gejala umum lainnya yang dapat dialami oleh penderita hepatitis C kronis:

  • Merasa lelah;
  • Nyeri pada otot dan sendi;
  • Gangguan pencernaan;
  • Sulit berkonsentrasi atau mengingat sesuatu;
  • Suasana hati mudah berubah;
  • Depresi;
  • Gatal-gatal.

Segera lakukan pemeriksaan diri jika mengalami gejala-gejala seperti yang telah disebutkan di atas tadi.

Penyebab

Hepatitis C disebabkan oleh virus. Virus ini berkembang di dalam darah, sehingga seseorang akan tertular hepatitis C saat mengalami kontak dengan darah penderita. Cara penularan hepatitis C yang paling umum terjadi, di antaranya:

  • Berbagi jarum suntik pada pengguna obat-obatan terlarang;
  • Pembuatan tato atau menindik dengan peralatan yang tidak steril;
  • Berbagi barang pribadi seperti gunting kuku, atau sikat gigi;
  • Melakukan hubungan seks bebas.

Virus hepatitis C tidak akan menular melalui air susu ibu, makanan, minuman, ataupun bersentuhan, seperti bersalaman atau berpelukan.

Diagnosis dan Pengobatan

Hepatitis C yang ditangani sedini mungkin, dapat mencegah dan menghambat kerusakan hati. Oleh karena itu, orang yang memiliki risiko tinggi terkena hepatitis C disarankan menjalani tes darah untuk mendiagnosis hepatitis C. Jika hasil tes menunjukkan positif, pengobatan belum tentu dibutuhkan, karena sistem kekebalan tubuh umumnya mampu memberantas infeksi dengan sendirinya.

Hepatitis C akut biasanya dapat sembuh tanpa penanganan khusus. Namun, bagi penderita yang mengalami hepatitis C kronis membutuhkan langkah penanganan melalui obat-obatan antivirus, seperti interferon dan ribavirin. Obat tersebut berfungsi menghentikan perkembangan virus dan mencegah kerusakan hati. Para pakar juga telah berhasil menemukan jenis obat baru yang lebih efektif, lebih aman dan dapat ditoleransi oleh tubuh. Obat tersebut adalah direct antiviral agent (DAA).

Pencegahan

Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menurunkan risiko penularan hepatitis C, di antaranya:

  • Berhenti menggunakan obat-obatan terlarang;
  • Tidak berbagi penggunaan barang-barang pribadi, seperti gunting kuku dan sikat gigi;
  • Penggunaan alat pengaman seperti kondom saat berhubungan seks, terutama seks anal;

Dokter menganjurkan vaksinasi untuk mencegah hepatitis A dan B, namun, Hepatitis C belum bisa dicegah dengan vaksinasi.