Kifosis adalah kelainan lengkungan tulang belakang. Setiap orang umumnya memiliki tulang belakang yang melengkung, pada kisaran 25 sampai 45 derajat. Namun pada penderita kifosis, kelengkungan tulang belakang bisa mencapai 50 derajat atau lebih, sehingga membuat orang menjadi bungkuk.

Gejala

Penderita kifosis dapat menunjukkan gejala yang berbeda-beda, namun umumnya ditandai dengan perbedaan tinggi bahu kanan dan kiri, perbedaan pada tinggi atau posisi skapula (tulang belikat), kepala terlihat lebih condong ke depan dibanding bagian tubuh lainnya, tinggi punggung atas terlihat tidak normal ketika membungkuk, otot belakang paha terasa kencang, serta nyeri punggung dan kaku.

Penyebab

Berdasarkan penyebabnya, kifosis terbagi menjadi tiga, yaitu:

  • Postural kyphosis. Kifosis jenis ini paling sering terjadi dan terlihat saat masa pertumbuhan. Kifosis ini ditandai dengan kondisi tulang belakang yang melengkung hingga 50 derajat atau lebih, namun bisa diperbaiki dengan fisioterapi rutin. Kifosis ini biasanya disebabkan oleh postur tubuh yang salah, misalnya karena bersandar di kursi yang terlalu membungkuk, atau akibat membawa tas sekolah yang terlalu berat.
  • Scheurmann’s kyphosis. Kifosis ini terjadi sebelum masa puber, dan lengkungan pada kifosis ini umumnya kaku dan memburuk seiring pertumbuhan, sehingga membuat penderitanya tidak bisa berdiri lurus.
  • Congenital kyphosis. Kifosis ini terjadi akibat kelainan perkembangan tulang belakang saat di dalam kandungan, dan dapat memburuk seiring pertumbuhan anak. Congenital kyphosis membutuhkan tindakan bedah secepatnya untuk mencegah bungkuk bertambah parah.

Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya kifosis, di antaranya:

  • Usia;
  • Penyakit tulang rapuh (osteogenesis imperfecta);
  • Skoliosis;
  • Spina bifida (penyakit kelainan bawaan lahir akibat pembentukan tulang belakang dan saraf tulang belakang yang tidak sempurna);
  • Penyakit paget (gangguan yang memengaruhi proses regenerasi tulang);
  • Neurofibromatosis (kelainan genetik yang memicu terbentuknya tumor di sistem saraf);
  • Tuberkulosis (TB).
  • Distrofi otot;
  • Fraktur kompresi (patah tulang belakang);
  • Kanker dan pengobatan kanker;
  • Penurunan kepadatan tulang;
  • Degenerasi bantalan sendi tulang belakang.
  • Cedera tulang belakang;
  • Penyakit tertentu, seperti sindrom Marfan dan sindrom Ehlers-Danlos.

Diagnosis

Dokter akan menjalankan pemeriksaan fisik pada pasien sebagai langkah awal untuk mendiagnosis kifosis. Kemudian, dokter akan meminta pasien membungkuk untuk melihat kelengkungan tulang belakangnya dari samping. Dokter juga akan meminta pasien berbaring, untuk melihat tulang belakang menjadi lurus atau tetap bengkok. Hal tersebut dilakukan untuk menentukan jenis kifosis. Pemeriksaan saraf juga akan dilakukan untuk melihat impuls saraf tulang belakang, terutama jika pasien mengalami mati rasa atau melemahnya kekuatan otot.

Setelah itu, untuk menguatkan diagnosis, dokter akan menjalankan beberapa pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan penunjang tersebut, antara lain:

  • Uji pencitraan (Foto Rontgen, CT scan, dan MRI).
  • Uji kepadatan tulang (bone density scan).
  • Tes darah.

Komplikasi

Kifosis yang tidak ditangani dengan benar berpotensi menimbulkan beberapa komplikasi, seperti:

  • Gangguan pernapasan;
  • Gangguan pencernaan, seperti maag atau sulit menelan;
  • Gerak tubuh yang terbatas;
  • Penampilan tubuh yang tidak menarik.

Pengobatan

Kebanyakan kasus kifosis yang disebabkan oleh postur tubuh yang salah tidak memerlukan pengobatan. Penderita hanya perlu memperbaiki postur tubuh dengan fisioterapi. Namun, kifosis akibat kelainan tulang belakang dapat ditangani melalui metode pengobatan yang disesuaikan dengan usia dan jenis kelamin pasien, serta tingkat keparahan dan fleksibilitas lengkungan tulang punggung.

Penanganan kifosis yang umumnya dilakukan oleh dokter adalah dengan pemberian obat-obatan. Jenis obat yang digunakan, yaitu pereda nyeri, seperti paracetamol atau ibuprofen, serta obat untuk osteoporosis. Selain itu, dokter juga akan menyarankan untuk rutin melakukan peregangan supaya memperbaiki fleksibilitas dan meredakan nyeri tulang belakang.

Dokter akan menyarankan tindakan spinal fusion pada kifosis yang parah Prosedur ini memasukkan potongan tulang di antara ruas tulang belakang, kemudian menyangganya dengan pen logam hingga posisi yang normal. Dokter juga akan menyarankan pasien mengonsumsi makanan kaya kalsium dan vitamin D, membatasi konsumsi alkohol, dan menghindari rokok. Hal tersebut untuk menjaga kepadatan tulang.