Setiap orang pasti pernah mengalami masalah kondisi kejiwaan seperti stres, cemas, takut, bahkan depresi. Sebagian besar perasaan tersebut dapat berlalu seiring berjalannya waktu, namun terkadang juga bisa berkembang menjadi masalah yang lebih serius dan berujung mengganggu kesehatan jiwa.

Pakar Kesehatan Jiwa menyatakan bahwa manusia dikategorikan sehat jiwanya apabila yang bersangkutan merasa sehat, bahagia, bisa menerima diri sendiri apa adanya, bisa menerima orang lain dan situasi kondisi di sekitarnya, serta bersikap optimis, dan senantiasa berupaya untuk hari esok yang lebih baik.

Tetapi, apabila seseorang sudah mulai sering mengeluh, merasa tertekan, sering protes dan mengalami penurunan fungsi kognitif atau emosi, orang tersebut bisa dikatakan sebagai individu yang sakit secara kejiwaannya.

Sakit secara kejiwaan bisa terjadi saat manusia menjalani kehidupan yang terus bertumbuh, berubah-ubah atau berpindah, berinteraksi dan berkompetisi dengan pihak lain, sukses-gagal, senang-sedih, puas-kecewa, marah-tenang, dan sebagainya. Selain itu, menjalankan pola hidup sehat juga sangat penting dilakukan.

Setiap orang memiliki cara masing-masing dalam menyikapi suatu kejadian. Ada yang memilih menggunakan mekanisme defens positif, dan ada juga yang menyikapi masalah dengan cara yang negatif. Hal tersebut karena tiap orang memiliki berbagai mekanisme defens dan akan membentuk pola yang bersangkutan dalam menghadapi stres yang dialami. Oleh karena itu, sudah seharusnya kita menjalankan hidup sehat.

Mekanisme Defens

Mekanisme defens sebenarnya sudah terbentuk sejak balita, seperti denial atau penyangkalan, distorsi (membayangkan secara tidak riil), dis-asosiasi (dilupakan atau diganti dengan yang lain), proyeksi (menyalahkan orang/pihak lain), displacement (mengalihkan ke objek lain). Saat menginjak usia yang lebih dewasa, setiap orang akan mulai mengunakan mekanisme defens seperti intelektualisasi (berusaha me-rasionalisasi), somatisasi (mengalihkan masalah ke fisiknya), dan represi (‘menekan’-memasukkannya ke alam nirsadar).

Mekanisme defens dapat dikatakan tidak sehat apabila menggunakan intorjeksi (menyalahkan diri sendiri), undoing (mogok, ngambek, reaksi formasi (bertindak sebaliknya), isolasi (memisahkan tindakan dengan emosinya), regresi (kembali berperilaku seperti masa lalu atau ketika kecil). Mekanisme defens bahkan bisa menyebabkan gangguan kesehatan secara fisik, karena kebanyakan individu tersebut mengalihkannya kepada sakit fisik.

Sedangkan mekanisme defens yang sehat adalah alturism (bertindak dengan kasih sayang, beribadah), antisipasi (merancang, menyusun alternatif), humor (menyikapi masalah sebagai anekdot), sublimasi (mengganti dengan objek lain), dan supresi (menahan diri, menyembunyikan).

Public Affairs & Communication Director PT Pfizer Indonesia Widyaretna Buenastuti mengatakan bahwa menjaga kesehatan jiwa tidak kalah pentingnya dengan menjaga kesehatan fisik.