Pria asal Bundi di negara bagian Rajasthan, India bisa memakan paku yang jumlahnya tidak sedikit. Hal ini diketahui setelah pria tersebut dibawa ke rumah sakit dan dokter melakukan pemeriksaan X-ray pada tubuhnya. Dokter segera melakukan operasi untuk mengeluarkan benda-benda asing tersebut dari perut.

Kebiasaan makan benda asing seperti itu ternyata dipengaruhi oleh kondisi psikologis, di mana pria tersebut diduga mengidap skizofrenia. Skizofrenia itu sendiri merupakan gangguan mental yang menyebabkan penderitanya mengalami halusinasi, delusi atau waham, kekacauan berpikir, dan perubahan perilaku.

Gejala Skizofrenia

Gejala awal skizofrenia biasanya muncul di masa remaja. Beberapa gejala awal skizofrenia, yaitu:

  • Cenderung mengasingkan diri dari orang lain;
  • Mudah marah;
  • Depresi;
  • Perubahan pola tidur;
  • Kurang konsentrasi;
  • Kesulitan dalam mengerjakan tugas.

Gejala skizofrenia terbagi menjadi dua kategori, yaitu positif dan negatif. Gejala skizofrenia positif mengacu pada perilaku yang tidak tampak pada individu yang sehat, seperti halusinasi, delusi,kacau dalam berpikir dan berbicara, serta perubahan perilaku. Sedangkan gejala negatif mengacu pada hilangnya minat yang sebelumnya ia miliki, dan dapat berlangsung beberapa tahun, sebelum penderita mengalami gejala awal. Beberapa gejala skizofrenia negatif, yaitu respons emosional yang ganjil, sulit merasa senang atau puas, mengasingkan diri, pola tidur berubah, tidak nyaman berada dekat orang lain, tidak mau memulai percakapan, serta tidak peduli pada penampilan dan kebersihan diri.

Penyebab Skizofrenia

Penyebab skizofrenia masih belum diketahui secara pasti. Namun, skizofrenia dikaitkan dengan sejumlah faktor risiko, seperti:

  • Faktor genetik (keturunan);
  • Faktor kimia otak (ketidakseimbangan kadar dopamin dan serotonin)
  • Komplikasi kehamilan dan persalinan, seperti kekurangan nutrisi, paparan racun dan virus, diabetes, preeklamsia, perdarahan dalam masa kehamilan, kekurangan oksigen saat dilahirkan, berat badan lahir rendah, dan lahir prematur.

Beberapa faktor risiko lainnya, yaitu:

  • Stres, misalnya karena perceraian, kehilangan pekerjaan atau tempat tinggal, ditinggal orang yang dicintai, elecehan seksual, atau kekerasan fisik dan emosional.
  • Peningkatan sistem kekebalan tubuh, akibat penyakit autoimun dan peradangan.
  • Cedera otak akibat jatuh atau kecelakaan.
  • Infeksi virus.
  • Penyalahgunaan NAPZA, seperti kokain, ganja dan amfetamin.

Diagnosis skizofrenia

Diagnosis skizofrenia dilakukan dengan menggunakan sejumlah kriteria berikut:

  • Pasien mengalami minimal dua dari sejumlah gejala berikut, yaitu delusi atau waham, halusinasi, bicara kacau, perilaku kacau, dan gejala negatif.
  • Gejala tersebut harus dialami pasien, setidaknya selama 6 bulan, dan pekerjaan serta kehidupan sosialnya juga ikut terganggu.
  • Gejala tersebut bukan disebabkan oleh kondisi gangguan mental lain, seperti gangguan bipolar, atau penyalahgunaan NAPZA.

Komplikasi Skizofrenia

Jika skizofrenia tidak ditangani, maka dapat memicu sejumlah komplikasi serius, seperti:

  • Depresi;
  • Berpikir dan mencoba bunuh diri;
  • Fobia;
  • Melukai diri sendiri;
  • Kecanduan alkohol;
  • Penyalahgunaan NAPZA;
  • Perilaku agresif dan gelisah.

Pengobatan Skizofrenia

Hingga saat ini, belum ada obat untuk menangani sizofrenia. Metode pengobatan yang dilakukan hanya untuk mengendalikan dan mengurangi gejala. Beberapa metode pengobatan tersebut, antara lain:

  • Obat-obatan, seperti antipsikotik;
  • Psikoterapi, seperti terapi individual, terapi perilaku kognitif, terapi remediasi kognitif, dan terapi elektrokonvulsif.