Penyakit Parkinson adalah penyakit yang terjadi akibat saraf yang memburuk dan memengaruhi bagian otak yang berfungsi mengoordinasikan gerakan. Penderita akan mengalami kesulitan mengatur gerakan tubuh dan lebih rentan menyerang individu berusia 60 tahun ke atas. Penyakit ini akan memburuk secara bertahap dan terbagi menjadi 5 stadium, yaitu:

  1. Stadium 1: gejala ringan dan tidak mengganggu aktivitas.
  2. Stadium 2: gejala mulai terlihat.
  3. Stadium 3: gejala makin jelas terlihat, seperti gerak tubuh mulai melambat, dan mulai mengganggu aktivitas.
  4. Stadium 4: penderita mulai kesulitan berdiri atau berjalan.
  5. Stadium 5: penderita akan sulit atau bahkan tidak bisa berdiri, serta mengalami delusi dan halusinasi.

Gejala

Gejala utama yang dapat dialami oleh penderita penyakit Parkinson adalah tremor atau gemetar, gerak tubuh melambat, dan kaku otot. Selain itu, penyakit Parkinson juga dapat disertai dengan gangguan fisik dan mental, seperti:

  • Gangguan keseimbangan;
  • Penurunan kemampuan gerak otomatis;
  • Cara dan nada bicara menjadi lambat dan tidak jelas;
  • Kesulitan menulis;
  • Hilangnya kemampuan indera penciuman;
  • Gangguan sensoris, seperti sensasi terbakar, dingin, dan mati rasa;
  • Gangguan seksual pada wanita;
  • Pusing;
  • Penglihatan buram;
  • Hilang kesadaran;
  • Sulit menahan buang air kecil;
  • Keringat berlebih (hiperhidrosis);
  • Produksi air liur berlebih;
  • Kesulitan menelan;
  • Sembelit (konstipasi);
  • Insomnia;
  • Cemas dan depresi;
  • Demensia.

Penyebab

Penyakit Parkinson disebabkan oleh kerusakan atau kematian sel saraf di bagian otak yang disebut susbstantia nigra. Sel saraf ini memiliki fungsi memproduksi dopamin. Dopamin yaitu senyawa kimia yang mengirim pesan dari otak ke sistem saraf, dan membantu mengontrol gerak tubuh. Kondisi sel saraf yang rusak atau mati tersebut menyebabkan jumlah dopamin dalam otak berkurang, akibatnya gerak tubuh menjadi lambat dan tidak normal.

Penyebab sel saraf rusak atau mati belum diketahui secara pasti. Namun, diduga berkaitan dengan faktor-faktor berikut ini:

  • Faktor keturunan yang disebabkan oleh mutasi pada gen.
  • Faktor lingkungan, misalnya karena paparan racun.
  • Penyakit Parkinson juga terkait dengan gumpalan protein abnormal yang disebut lewy bodies.

Diagnosis

Dokter dapat menduga pasien menderita penyakit Parkinson, jika terdapat sejumlah gejala dan riwayat penyakit yang sama pada keluarga pasien. Diagnosis dapat diperkuat dengan melakukan pemeriksaan fisik, namun belum ada metode pemeriksaan yang dapat memastikan diagnosis penyakit ini.

Dokter dapat menjalankan beberapa tes untuk menyingkirkan kemungkinan gejala yang disebabkan oleh penyakit lain. Beberapa tes tersebut, antara lain:

  • Uji pencitraan, seperti MRI, CT scan dan PET scan.
  • Tes Darah.
  • SPECT (single photon emission computed tomography).

Pengobatan

Penyakit Parkinson belum bisa disembuhkan sepenuhnya, namun terdapat beberapa metode pengobatan yang dapat dilakukan untuk membantu meredakan gejala dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Metode pengobatannya, antara lain:

  • Terapi suportif, seperti fisioterapi, perubahan menu makan, serta terapi wicara.
  • Obat-obatan, seperti antikolinergik, levodopa, agonis dopamin, dan entacapone. Obat-obatan ini berfungsi meningkatkan atau mengganti dopamin dalam tubuh.
  • Prosedur bedah akan dilakukan apabila pasien sudah menderita penyakit Parkinson dalam waktu yang lama. Beberapa prosedur yang dapat dilakukan adalah deep brain stimulation (DBS), dan bedah pisau gamma (gamma knife).