Pneumonia aspirasi adalah peradangan paru-paru (pneumonia) yang disebabkan karena masuknya benda asing ke dalam paru-paru, biasanya berupa makanan atau minuman. Pneumonia ini termasuk salah satu kondisi yang mesti diwaspadai, karena kelanjutan dari komplikasi aspirasi paru-paru. Lalu, bagaimana cara mendiagnosis penyakit ini? 

Cara mendiagnosis pneumonia aspirasi

Dokter terlebih dahulu akan mencari tanda dan gejala pneumonia pada seseorang yang diduga mengalami pneumonia aspirasi. Ketika dokter menemukan gejala seperti sesak napas, suara bising pada paru-paru, hingga peningkatan detak jantung, dokter akan merekomendasikan beberapa pemeriksaan lanjutan. Pemeriksaan tersebut bisa berupa:

  • Rontgen dada atau CT scan;
  • Kultur atau pemeriksaan bakteri dari riak;
  • Pemeriksaan darah lengkap;
  • Pemeriksaan analisis gas darah.
  • Bronkoskopi.

Gejala pneumonia aspirasi

Gejala pneumonia aspirasi bisa berbeda-beda pada setiap orang. Namun, umumnya gejala menimbulkan gejala berupa: 

  • Nyeri pada dada;
  • Batuk dengan riak berwarna kehijauan, berdarah, atau berbau busuk;
  • Sesak napas;
  • Mengi;
  • Bau napas;
  • Keringat berlebihan;
  • Kesulitan menelan;
  • Kebiruan pada kulit;
  • Kelelahan.

Penyebab dan faktor risiko pneumonia aspirasi

Penyebab utama pneumonia aspirasi adalah terganggunya kemampuan bertahan paru-paru akibat bakteri berbahaya dalam jumlah yang banyak. Bakteri tersebut biasanya masuk ke dalam saluran pernapasan bersama benda asing, seperti makanan, minuman, atau air liur.

Hal ini umumnya disebabkan karena tersedak. Namun, ada pula beberapa kondisi medis lain yang dapat menyebabkan pneumonia aspirasi, seperti:

  • Kelainan neurologis;
  • Kanker esofagus;
  • Penyakit Parkinson;
  • pengaruh anestesi sedatif;
  • Sistem imun tubuh yang lemah. 
  • Masalah pada area sekitar gigi dan mulut, sehingga mengganggu proses menelan.

Selain itu, ada beberapa faktor risiko yang dapat menyebabkan pneumonia aspirasi, seperti:

  • Gangguan kesadaran;
  • Penyakit paru-paru obstruktif kronis;
  • Kejang berulang;
  • Penderita stroke;
  • Setelah mendapatkan terapi radiasi di area kepala dan leher;
  • Penggunaan nasogastric tubuh (selang yang dipasang hidung untuk memberi makan).
  • Kelainan saraf, seperti multiple sclerosis atau Parkinson. 

Perlu diingat, bahwa pneumonia aspirasi harus ditangani dengan cepat dan tepat. Hal ini karena jika dibiarkan bisa menimbulkan abses paru dan bronkiektasis (kerusakan pada saluran bronkus di dalam paru-paru).

Dapatkan informasi lebih lengkap mengenai bisnis klinik beserta beberapa tips lainnya dengan download Gratis E-Book Di sini!