Skizofrenia paranoid merupakan skizofrenia yang paling umum terjadi di masyarakat. Skizofrenia itu sendiri adalah penyakit gangguan otak yang menyebabkan penderitanya mengalami kelainan dalam berpikir, serta kelainan dalam merasakan. Skizofrenia biasanya muncul pada masa remaja akhir hingga dewasa. Secara umum, skizofrenia adalah gangguan kejiwaan kronis yang membutuhkan pengobatan secara berkepanjangan untuk meringankan gejala.

Gejala

Gejala utama dari skizofrenia paranoid adalah delusi atau waham, dan halusinasi. Delusi atau waham merupakan keyakinan kuat akan suatu hal yang salah. Ada berbagai macam waham yang bisa muncul pada penderita skizofrenia, yaitu:

  • Waham kendali: kepercayaan bahwa penderita sedang dikendalikan oleh suatu hal, seperti oleh alien ataupun pemerintah.
  • Waham kejar: kepercayaan bahwa penderita sedang dikejar-kejar oleh seseorang atau banyak orang.
  • Waham rujukan: kepercayaan bahwa penderita memiliki suatu benda penting yang ditujukan khusus untuk dirinya.
  • Waham kebesaran: kepercayaan bahwa penderita memiliki kemampuan luar biasa, posisi penting, atau kekayaan tidak terbatas.

Waham yang paling dominan muncul pada penderita skizofrenia paranoid adalah waham kejar. Waham kejar atau persekusi merupakan cerminan dari rasa takut dan kecemasan yang besar, serta cerminan dari hilangnya kemampuan untuk membedakan hal yang nyata dan tidak nyata. Gejala waham kejar yang dapat dialami oleh penderita skizofrenia paranoid, yaitu:

  • Merasa pemerintah sedang memata-matai aktivitas sehari-harinya.
  • Merasa orang sekitar sedang bersekongkol untuk mencelakakannya.
  • Merasa teman-teman atau orang terdekat mencoba membunuhnya.
  • Merasa pasangannya sedang berselingkuh.

Penderita skizofrenia paranoid juga dapat menderita halusinasi, yaitu merasakan suatu hal yang terasa nyata, namun sebenarnya tidak ada. Contohnya adalah mendengar suara-suara yang sebenarnya tidak nyata. Selain itu, halusinasi juga dapat menyebabkan penderitanya seperti melihat benda-benda yang sebenarnya tidak nyata.

Penderita skizofrenia paranoid juga dapat mengalami perilaku kacau (disorganized behaviour), sehingga tidak bisa mengontrol perilakunya di rumah maupun di lingkungan sekitarnya. Selain perilaku, penderita skizofrenia juga bisa mengalami bicara kacau, seperti mengulang kata-kata di tengah pembicaraan atau bahkan membuat kata-kata sendiri.

Delusi, halusinasi, serta perilaku dan bicara kacau digolongkan menjadi gejala yang positif pada penderita skizofrenia. Selain itu, penderita skizofrenia juga dapat mengalami gejala negatif, seperti:

  • Tidak memiliki emosi.
  • Ekspresi wajah datar atau tidak memiliki ekspresi.
  • Hilang ketertarikan terhadap aktivitas harian dan lingkungan sekitar.
  • Kehilangan ketertarikan terhadap kegiatan menyenangkan (anhedonia).

Gejala negatif ini perlu diperhatikan karena dapat menimbulkan ide untuk bunuh diri.

Penyebab

Penyebab munculnya skizofrenia paranoid masih belum diketahui dengan pasti. Namun diduga skizofrenia muncul akibat kelainan pada otak dan sistem transmisi saraf, serta kelainan sistem kekebalan tubuh. Beberapa faktor yang diduga dapat memicu terjadinya skizofrenia pada seseorang, antara lain:

  • Riwayat skizofrenia pada anggota keluarga;
  • Terinfeksi virus saat masih dalam kandungan;
  • Mengalami perlakuan yang tidak baik waktu masih kecil;
  • Mengalami perceraian orang tua waktu masih kecil;
  • Kekurangan oksigen saat kelahiran.

Diagnosis

Diagnosis skizofrenia diawali dengan dokter akan menanyakan riwayat munculnya gejala yang dialami. Kemungkinan kondisi medis atau gangguan kesehatan jiwa lain yang mungkin menjadi penyebab atau menyertai gejala-gejala di atas, dokter atau psikiater dapat melakukan beberapa pemeriksaan tambahan. Beberapa pemeriksaan tambahan tersebut, antara lain:

  • Wawancara psikiatrik untuk menyingkirkan kemungkinan gangguan jiwa lain, misalnya bipolar.
  • Tes pencitraan otak.
  • Tes urine.
  • Pemeriksaan hitung sel darah lengkap.
  • Tes fungsi tiroid, liver, dan ginjal.
  • Tes kadar elektrolit, gula darah, vitamin B12, asam folat, dan kalsium dalam darah.
  • Tes kultur urine.
  • Tes kehamilan.
  • Tes fungsi luhur.

Komplikasi

Skizofrenia paranoid yang tidak ditangani dengan baik dapat menimbulkan komplikasi, seperti:

Pengobatan

Pengobatan skizofrenia paranoid memerlukan gabungan atau kombinasi dari berbagai bidang, seperti dokter, terutama psikiater, perawat, pekerja sosial, dan konselor atau terapis. Pasien skizofrenia paranoid umumnya diberikan obat-obatan antispikotik untuk meredakan gejala-gejala skizofrenia seperti delusi dan halusinasi. Dokter akan memantau efektivitas dari obat-obatan antipsikotik beserta dosisnya.

Beberapa hal lain yang dianjurkan untuk dilakukan oleh penderita skizofrenia, yaitu:

  • Tidur yang cukup;
  • Olahraga secara teratur;
  • Mengatur tingkat stres;
  • Menjaga interaksi sosial dan mengikuti aktivitas yang melibatkan banyak orang.
  • Hindari merokok, konsumsi alkohol, atau mengonsumsi obat-obatan terlarang.

Skizofrenia paranaoid ini merupakan gangguan yang biasanya terjadi seumur hidup dan tidak dapat pulih secara sempurna. Namun, deteksi gejala secara dini dan segera melakukan pengobatan, serta dukungan dari lingkungan sekitar dapat membantu pasien skizofrenia paranoid untuk beradaptasi dengan keadaannya.