Sleep apnea adalah gangguan pernapasan yang terjadi saat tidur, di mana saluran udara terhambat karena dinding tenggorokan yang mengendur dan menyempit. Akibatnya, organ tubuh, terutama otak mungkin tidak mendapatkan oksigen yang cukup, serta kualitas tidur menjadi buruk yang membuat keesokan harinya merasa lelah.

Terdapat dua macam gangguan pernapasan pada penderita apnea tidur, yaitu:

  1. Hipopnea, terjadi ketika saluran udara menyusut hingga lebih dari 50% dan mengakibatkan napas menjadi pendek dan lambat. Hipnonea biasanya terjadi sekitar 10 detik.
  2. Apnea, terjadi ketika seluruh saluran udara terhambat selama sekitar 10 detik. Saat apnea, kadar oksigen dalam darah turun sehingga otak memerintahkan untuk bangun dan berusaha bernapas kembali. 

Apnea tidur terbagi dalam tiga jenis, yaitu:

  1. Apnea tidur obstruktif. Apnea ini yang paling umum terjadi, di mana otot tenggorokan mengendur.
  2. Apnea tidur sentral. Apnea jenis ini terjadi ketika otak tidak mengirim sinyal dengan baik pada otot yang mengatur pernapasan.
  3. Apnea tidur kompleks. Apnea jenis ini merupakan kombinasi dari apnea tidur sentral dan obstruktif.

Gejala

Gejala yang dapat dialami oleh penderita apnea tidur, antara lain:

  • Mendengkur dengan keras;
  • Sering mengalami henti napas, lalu terengah-engah;
  • Sulit tidur nyenyak di malam hari;
  • Bangun dengan mulut kering atau tenggorokan yang serak;
  • Pusing pada pagi hari;
  • Mengantuk saat pagi hari;
  • Berkeringat berlebihan di malam hari.
  • Sering terbangun di malam hari;
  • Mudah marah;
  • Depresi;
  • Penurunan gairah seksual atau disfungsi ereksi pada pria.

Segera konsultasikan kepada dokter jika mengalami beberapa gejala di atas, terutama jika gejala tersebut sudah mengganggu rutinitas sehari-hari Anda.

Penyebab

Otot di belakang tenggorokan yang menopang jaringan lunak dari langit-langit (uvula), tonsil, dinding samping tenggorokan dan lidah pada saat tidur akan mengendur. Hal ini menyebabkan saluran udara menyempit atau tertutup ketika menarik napas, sehingga tidak cukup mendapat pasokan oksigen. Kondisi ini menimbulkan reaksi otak untuk membangunkan agar saluran udara kembali terbuka. Gangguan ini biasanya berlangsung sangat singkat dan berulang dalam satu jam. Sedangkan gangguan tidur lain atau apnea tidur sentral membuat tidak bisa bernapas sesaat pada waktu otak tidak mengirimkan sinyal ke otot pernapasan. Akibatnya, kesulitan meneruskan tidur nyenyak atau terbangun dengan napas pendek.

Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko mengalami apnea tidur, di antaranya:

  • Jenis kelamin (cenderung terjadi pada pria);
  • Memiliki leher yang besar (lebih dari 43 cm);
  • Berat badan berlebih (obesitas);
  • Mengonsumsi obat penenang, seperti obat bius dan obat tidur;
  • Usia (40 tahun atau lebih);
  • Memiliki kelainan pada struktur leher bagian dalam, seperti amandel yang besar.
  • Hidung tersumbat;
  • Memiliki riwayat apnea tidur dalam keluarga;
  • Merokok;
  • Mengonsumsi minuman keras;
  • Menopause pada wnaita;
  • Kondisi medis, seperti gangguan jantung dan stroke.

Diagnosis

Mendiagnosis apnea tidur dapat dilakukan dengan terlebih dahulu menanyakan gejala yang dialami penderita, pemeriksaan fisik, termasuk tekanan darah, mengukur tinggi badan, berat badan dan leher, serta pemeriksaan darah. Jika penyebab apnea tidur masih belum jelas, dokter dapat melakukan observasi tidur malam hari pada pasien melalui tes yang disebut dengan polisomnografi.

Polisomnografi terdiri dari kombinasi beberapa tes, yaitu:

  • Elektromiografi (EMG), untuk memeriksa dan merekam aktivitas sinyal otot.
  • Elektroensefalografi (EEG) untuk mengamati gelombang otak.
  • Elektrokardiografi (ECG) untuk mengamati jantung.
  • Rekaman gerakan otot dada dan perut.
  • Rekaman aliran udara melalui mulut dan hidung.
  • Rekaman detak jantung dan kadar oksigen dalam darah (pulse oximetry).
  • Rekaman suara dan video.

Observasi ini juga bisa dilakukan di rumah dengan alat perekam untuk mengamati tidur pasien. Alat tersebut akan merekam kadar oksigen dalam darah, detak jantung, pola pernapasan, dan aliran udara. Jika pasien mengalami apnea tidur, hasil tes akan menunjukkan kadar oksigen yang rendah saat apnea, namun akan kembali meningkat saat bangun.

Komplikasi

Beberapa komplikasi yang mungkin terjadi, terutama pada penderita dengan gejala apnea tidur yang tidak bisa dikendalikan, antara lain:

  • Tekanan darah tinggi (hipertensi);
  • Diabetes tipe 2;
  • Gangguan hati;
  • Sindrom metabolik;
  • Mengalami kecelakaan karena rasa kantuk akibat terganggunya waktu tidur di malam hari.

Pengobatan

Pengobatan apnea tidur dapat dilakukan berdasarkan kondisi dan tingkat keparahannya. Apnea tidur yang ringan dianjurkan untuk menanganinya dengan mengubah gaya hidup seperti menghindari obat-obatan penenang dan obat tidur, menurunkan berat badan jika berat badan berlebih, hindari tidur terlentang, berhenti merokok, dan membatasi konsumsi minuman keras atau alkohol.

Jika apnea tidur yang dialami merupakan tingkat sedang hingga parah, maka diperlukan terapi dengan menggunakan beberapa alat, di antaranya:

  • CPAP (Continuous Positive Airway Pressure). Alat ini untuk meniupkan udara bertekanan positif ke dalam hidung atau ke dalam hidung dan mulut.
  • BiPAP (bilevel positive airway pressure).Alat ini bertujuan untuk membantu penderita apnea tidur sentral yang mengalami pola pernapasan yang lemah.
  • MAD (Mandibular Advancement Device).Alat ini dapat menahan rahang dan lidah untuk mencegah penyempitan pada saluran pernapasan yang menyebabkan seseorang mendengkur.
  • ASV(adaptive servio-ventrilation).Alat ini merekam pola pernapasan dan dapat membuat pernapasan menjadi normal ketika tidur dengan memberi tekanan pada saluran udara.
  • Pemakaian oksigen tambahan.

Jika terapi dengan alat belum juga membantu mengatasi gejala apnea tidur atau jika kondisi ini berisiko mengakibatkan komplikasi serius, maka dapat dilakukan operasi sesuai dengan penyebabnya. Tindakan operasi yang biasa dilakukan adalah:

  • Bedah bariatric.Operasi pengecilan ukuran lambung yang dilakukan untuk penderita obesitas.
  • Trakeostomi.
  • Tonsilektomi (operasi pengangkatan amandel ketika amandel terlalu besar).
  • Implantasi langit-langit lunak.
  • Adenoidektomi (operasi pengangkatan adenoid yang terlalu besar dan menghalangi saluran pernapasan ketika tidur).
  • Uvulopalatopharyngoplasty(operasi pengangkatan jaringan di belakang mulut dan tenggorokan atas)
  • Prosedur reposisi rahang.
  • Prosedur lainnya untuk menghilangkan dengkur,misalnya operasi pengangkatan amandel atau polip hidung.