Selain kesehatan tubuh, beribadah bersama ribuan orang dari berbagai penjuru dunia membuat calon peserta haji membutuhkan vaksinasi agar bisa mengurangi risiko terpapar bakteri dan virus berbahaya. Oleh karena itu, semua peserta ibadah haji dan umroh wajib memiliki sertifikat yang menyatakan telah memperoleh vaksin, serta melakukan pemeriksaan kesehatan sebelum berangkat untuk menunaikan ibadah haji. Lalu, apa saja vaksin yang harus diperoleh sebelum menunaikan ibadah haji? Berikut ulasannya.

1. Vaksin Meningitis

Meningitis adalah peradangan pada selaput yang melindungi otak dan sumsum tulang belakang. Penyakit ini berisiko tinggi terjadi di bagian tertentu di dunia, terutama Arab Saudi, di mana tempat umat muslim menunaikan ibadah haji dan umroh.

Maka dari itu untuk mencegahnya, vaksin meningitis menjadi vaksinasi yang diwajibkan oleh Kementerian Kesehatan Arab Saudi. Sertifikat yang menyatakan bahwa telah mendapat vaksin meningitis menjadi syarat calon haji untuk mendapatkan visa. Sejumlah ketentuan pemberian vaksin tersebut, yaitu:

  • Meningitis disebabkan oleh bakteri kelompok A, C, W, dan Y, sehingga semua jamaah wajib menerima satu dosis vaksin kuadrivalen polisakarida atau vaksin ACWY135.
  • Pemberian vaksin ini disarankan untuk dilakukan 2-3 minggu sebelum keberangkatan, dan tidak kurang dari 10 hari sebelumnya. Jika sebelumnya pernah mendapat vaksin yang sama, maka pastikan bahwa waktu pemberiannya tidak lebih dari tiga tahun sebelumnya.
  • Jika diberikan pada orang dewasa dan anak-anak berusia lebih dari lima tahun, vaksin tersebut mampu memberikan perlindungan dari meningitis selama lima tahun.
  • Jika diberikan pada anak di bawah usia lima tahun, vaksinasi akan memberikan perlindungan selama 2-3 tahun. Namun, pemberian pada balita usia dua bulan hingga tiga tahun, harus diikuti dengan pemberian vaksin kedua pada tiga bulan setelahnya.
  • Vaksin ini tidak dibolehkan untuk diberikan pada bayi berusia kurang dari dua bulan.

Efek samping yang parah setelah pemberian vaksin ACWY ini sangat jarang terjadi. Sekitar 10% orang yang menerima vaksin ini mengalami nyeri dan kulit kemerahan yang umumnya akan hilang dalam 1-2 hari, sedangkan pada anak-anak terkadang mengalami demam.

2. Vaksin influenza musiman

Virus penyebab influenza berbeda-beda pada setiap tahunnya (musiman), sehingga pemberian vaksin disesuaikan dengan tipe tersebut. Vaksin influenza dianjurkan untuk jamaah haji dengan kondisi tertentu, seperti:

  • Penderita penyakit kronis seperti asma, penyakit paru-paru kronis, gagal jantung kronis, dan HIV/AIDS;
  • Penderita penyakit gangguan metabolik;
  • Obesitas;
  • Balita, lansia, dan wanita hamil.

3. Vaksin pneumonia

Penyakit yang umumnya disebabkan oleh infeksi bakteri Streptococcus pneumoniae dapat dicegah dengan pemberian vaksin pneumonia. Vaksin ini disarankan bagi calon jamaah haji dengan kondisi tertentu, misalnya lansia berusia 65 tahun ke atas, anak-anak, dan orang dewasa dengan penyakit kronis berupa asma, diabetes, gangguan ginjal, atau penyakit jantung.

Vaksin pneumokokus terdiri dari dua jenis yaitu Pneumococcal Conjugate Vaccine (PCV) dan Pneumococcal Polysaccharide Vaccine (PPV). Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) merekomendasikan pemberian vaksin PCV tersebut untuk anak berusia 2, 4, dan 6 bulan, kemudian vaksin ulangan atau booster diberikan pada usia 12-15 bulan.

Bagi orang yang akan melaksanakan ibadah haji diwajibkan oleh pemerintah Arab Saudi untuk memperoleh berbagai vaksin di atas. Konsultasikan pada dokter terlebih dahulu jika Anda memiliki riwayat alergi terhadap sebagian atau seluruh vaksin (maupun kandungannya).

Pemeriksaan Kesehatan Sebelum Menunaikan Ibadah Haji

Selain vaksin, salah satu persyaratan utama untuk memastikan perjalanan ibadah haji aman adalah melalui pemeriksaan kesehatan yang baik. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 15 Tahun 2016 Tentang Istithaah Kesehatan Jemaah Haji, menyatakan bahwa seluruh jemaah haji harus mendapatkan pemeriksaan dan pembinaan kesehatan untuk mencapai kondisi istithaah kesehatan haji.

Pemeriksaan kesehatan peserta Haji dilakukan dalam tiga tahap. Tiga tahap tersebut, yaitu:

  1. Tahap pertama, yaitu dilaksanakan oleh tim pemberi pelayanan kesehatan di Puskesmas. Pemeriksaan ini dilakukan saat peserta haji hendak melakukan pendaftaran untuk mendapatkan nomor porsi.
  2. Tahap kedua, yaitu dilaksanakan oleh Tim Penyelenggara Kesehatan Haji Kabupaten atau Kota di Puskesmas atau RS pada saat pemerintah telah menentukan kepastian keberangkatan Jemaah Haji.
  3. Tahap Ketiga, yaitu dilaksanakan oleh Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Bidang Kesehatan. Pemeriksaan kesehatan di tahap ini akan dilakukan untuk menentukan apakah Jemaah Haji layak terbang atau tidak sesuai dengan peraturan penerbangan internasional.

Pastikan kesehatan dan persyaratan untuk keberangkatan haji atau umroh Anda telah terpenuhi agar perjalanan ibadah Anda dapat berjalan dengan baik.

Dapatkan informasi lebih lengkap mengenai rekam medis dengan download Gratis E-Book Di sini!