Dyspraxia adalah kondisi yang menyebabkan penderitanya tidak dapat beraktivitas fisik secara maksimal seperti orang normal. Hal tersebut karena kondisi ini mempengaruhi koordinasi dan pergerakan anggota tubuh. Penderita dyspraxia akan mengalami gangguan keseimbangan, dan umumnya lebih banyak diderita oleh anak laki-laki daripada perempuan.

Gejala

Penderita dyspraxia biasanya akan mengalami beberapa hal berikut ini:

  • Gangguan koordinasi, keseimbangan, dan pergerakan.
  • Kesulitan mempelajari teknik baru, berpikir, dan mengingat informasi saat beraktivitas maupun saat bersantai.
  • Kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari, misalnya berpakaian atau mengikat tali sepatu.
  • Kesulitan menulis, mengetik, menggambar, dan menggenggam benda kecil.
  • Gangguan situasi sosial.
  • Kesulitan mengelola emosi.
  • Sulit memanajemen waktu, merencanakan, dan mengatur sesuatu.

Sedangkan gejala yang mungkin tampak pada anak penderita dyspraxia adalah:

  • Bayi membutuhkan waktu yang lebih lama untuk bisa duduk, merangkak atau berjalan.
  • Posisi tubuh yang tidak seperti biasanya.
  • Kesulitan bermain dengan mainan yang membutuhkan koordinasi tubuh yang baik.
  • Kesulitan belajar makan sendiri dengan alat makan.
  • Terlihat canggung dan ceroboh, seperti sering terbentur atau menjatuhkan barang.
  • Sulit berkonsentrasi, mengikuti instruksi, dan memahami informasi.
  • Kesulitan dalam mengorganisir diri sendiri dan menyelesaikan tugas.
  • Tidak bisa mempelajari kemampuan baru secara otomatis.
  • Sulit mendapatkan teman baru.
  • Memiliki masalah pada tingkah laku.
  • Memiliki kepercayaan diri yang rendah.

Penyebab

Dyspraxia dapat terjadi jika terdapat gangguan pada salah satu saraf ataupun bagian otak. Namun, penyebab pasti koordinasi anggota tubuh tidak berkembang dengan normal masih belum jelas. Ada beberapa hal yang bisa meningkatkan risiko seseorang terkena dyspraxia, di antaranya:

  • Kelahiran prematur.
  • Lahir dengan berat badan rendah.
  • Memiliki anggota keluarga yang menderita dyspraxia.
  • Ibu mengonsumsi minuman beralkohol atau obat-obatan terlarang saat mengandung.

Diagnosis

Diagnosis pada pasien yang dicurigai menderita dyspraxia, membutuhkan tim dari dokter spesialis anak, fisioterapis, psikiater, dan dokter spesialis saraf.

Pasien dyspraxia akan dilakukan pemeriksaan untuk mengumpulkan informasi dalam beberapa hal berikut ini:

  • Apakah kemampuan motorik pasien tidak sesuai dengan usia dan kecerdasannya.
  • Hambatan dalam aktivitas sehari-hari pasien.
  • Pasien tidak berprestasi di sekolah karenan kurangnya ketrampilan.
  • Apakah pasien mengalami kesulitan belajar.
  • Apakah kemampuan motorik pasien lebih buruk daripada yang diharapkan.
  • Apakah pasien memiliki gangguan mental yang dapat dinilai oleh psikiater.
  • Gangguan atau kelainan saat kelahiran atau riwayat keterlambatan dalam perkembangan anak.
  • Ada atau tidaknya anggota keluarga yang menderita dypraxia.

Seluruh informasi dan hasil pemeriksaan tersebut akan dinilai oleh tim dan akan disimpulkan apakah pasien menderita dyspraxia atau tidak.

Pengobatan

Dyspraxia sampai saat ini belum ada obatnya, namun penderitanya dapat menjalani beberapa terapi untuk mengurangi gangguan dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Beberapa terapi yang dapat dilakukan, antara lain:

  • Terapi okupasi;
  • Terapi perilaku kognitif

Teknik, cara, dan pendekatan yang dilakukan pada setiap pasien berbeda-beda. Tim akan merancang jenis terapi yang tepat setelah dyspraxia terdiagnosis. Pasien sangat membutuhkan dukungan dari orang-orang terdekat untuk membantunya dalam mengatur kondisinya, sehingga dapat menjalani kehidupan dengan baik.

Anak-anak penderita dyspraxia seringkali memiliki kelainan lain seperti: